Tampilkan postingan dengan label SM Story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SM Story. Tampilkan semua postingan

Jumat, 12 Agustus 2016

Sulap Ala Nadia



Suatu siang saat istirahat, saya dan teman kantor memilih salah satu tempat makan untuk bersantap siang yang kebetulan milik orangtua dari salah satu murid SM saya. Anak itu bernama Nadia. Pada saat tiba disana, ternyata Nadia juga sedang disana. Kami saling sapa dan menanyakan kabar. Nadia ini usianya sekitar 8 tahun. Kelas 2 SD. Saat kami akan selesai makan, Nadia yang dari tadi sibuk berbisik-bisik dengan mamanya akhirnya memberanikan diri datang ke meja kami.

Minggu, 01 November 2015

Namanya Nino


Hari ini untuk pertama kalinya saya merasa berat mengetahui bahwa minggu depan kemungkinan besar saya tidak bisa hadir di sekolah minggu karena harus keluar kota. Kenapa? Begini ceritanya (maaf agak panjang)...

Minggu lalu Ls. Ester menginfokan bahwa ia berhalangan hadir hari ini karena satu dan lain hal, sementara Ls. Ike masih di luar kota. Mengingat keterbatasan guru di SM, saya diminta menggantikan Ls. Ester membawa cerita FT. Saat itu perasaan saya campur aduk. Bingung. Ada ketakutan, kekhawatiran, ragu, namun juga ada rasa penasaran dan excited. Saya berulang kali bertanya pada diri sendiri “Can I?” Saya belum resmi menjadi laoshi. Kelas penataran baru akan dimulai di awal November. Membawakan cerita sebelum resmi lulus menjadi laoshi membuat saya merasa menjadi laoshi prematur. Mampukah saya? Layakkah saya?

Rabu, 28 Oktober 2015

Laoshi, Kiss...

Hampir setahun ini saya menjadi asisten laoshi di SM GKPJ Pos PI Mayang. Tidak pernah saya membayangkan akan bertahan selama ini, karena dari dulu saya tidak (atau mungkin belum) tergerak melayani di bidang anak-anak. Menurut saya jadi guru SM itu merepotkan,  bukan karena anak-anaknya, saya sangat suka anak-anak. Namun membayangkan harus bangun lebih pagi di hari yang berwarna merah saja sudah sangat berat bagi wanita pekerja yang senin hingga sabtu harus membanting tulang (literally, saking kurusnya), dilengkapi dengan tanggung jawab tambahan membuat aktivitas yang baik untuk anak setiap minggunya. Saya yang tangannya sangat tidak kreatif langsung memasang dinding tinggi dalam diri untuk mampu menolak segala tawaran melayani di sekolah minggu. Dinding itu sudah ada sejak masa kuliah sebenarnya, berulang kali saya mendapat tawaran di gereja yang lama untuk masuk ke dunia sekolah minggu, namun saya selalu menolak, dengan berbagai alasan yang masuk akal (the perks of being good negosiator :p). 

 

Tempat Mengungkap yang Tak Terucap Template by Ipietoon Cute Blog Design