Jumat, 06 Februari 2015

Bahagia Itu Sederhana



Hai, Kamu, aku ingin berbagi mengenai pandanganku tentang menjadi bahagia.
Coba kau simak, mungkin ada bahagia yang sama, atau mungkin kau punya bahagia yang lebih membahagiakan.

Menurutku,
Bahagia itu sederhana, sesederhana obrolan santai yang kita ucapkan kala hujan.
Bahagia itu sederhana, sesederhana senandung kecil yang dilantunkan saat mendengar lagu kesukaan.
Bahagia itu sederhana, sesederhana usapan tangan ayah di kepalamu hingga terlelap.
Bahagia itu sederhana, sesederhana disambut anak anjing yang berlonjak riang saat pulang.
Bahagia itu sederhana, sesederhana mendengar kalimat: “lause, liat rumah-rumahan aku. Udah bisa bikin sendiri” dari anak berusia 3 tahun.
Bahagia itu sederhana, sesederhana rengekan anak kecil yang tidak mau kita tinggal pergi.
Bahagia itu sederhana, sesederhana dipercayakan untuk melakukan sesuatu bagi orang lain
Bahagia itu sederhana, sesederhana kata terima kasih yang terucap.
Bahagia itu sederhana, sesederhana tawa yang tercipta saat bersama
Bahagia itu sederhana, sesederhana pilihan untuk menjadi bahagia.

Iya, bahagia itu pilihan. Setiap orang bebas memilih apa yang membuatnya menjadi bahagia.
Jika bahagia kita berbeda, tidak ada masalah dengan itu, selama kita menghormati kebahagiaan masing-masing.
Everyone has their concept about happiness. Respect their decision as they respect yours.

Menurutmu, apa bahagiamu? Apapun itu, selamat berbahagia.

*ditulis untuk tantangan twitter #30HariMenulisSuratCinta

Kamis, 05 Februari 2015

Surat Ijin untuk Tukang Pos

Kepada: Tukang Pos

Halo Kak Mike,
Hari ini aku malas sekali menulis surat. Kepalaku sedang dipenuhi banyak persoalan pekerjaan dan permasalahan yang aku buat sendiri. Saking rumitnya, bisa dijadikan sebagai bahan soal olimpiade fisika tingkat dunia. Ah, maaf, Kak, aku mulai ngelantur. 

Hari ini aku ijin ya, Kak, tidak menulis surat cinta yang penuh bunga dulu. Besok-besok aku janji akan menulis dengan semangat. Semangati aku ya, Pak Pos. Hehehe.

Salam,
Penulis surat yang sedang mangkir

*ditulis untuk tantangan twitter #30HariMenulisSuratCinta 

Rabu, 04 Februari 2015

Saat Laut Bertemu Langit

Kepada: Ce Yuki

Cece masih ingat pertama kali kita ketemu? Iya, yang di tangga gereja itu, waktu aku bareng sama orang tua anak SM. Aku mencoba membayangkan apa jadinya kalau pemudi pertama yang kami temui bukan cece, barangkali surat ini tidak akan tercipta. Coba bayangkan seandainya saat itu cece pulang sedikit lebih cepat, mungkin tidak akan terjadi pertemuan di tangga itu, dan mungkin saat ini aku tidak akan aktif berkegiatan di gereja. Kebetulan? Sepertinya tidak. Tuhan sudah merencanakan hari itu. Tuhan sudah mengatur waktu tersebut dengan sedemikian rupa. Tuhan sudah menyatakan bahwa hari ini sudah waktunya laut bertemu dengan langit.


Selasa, 03 Februari 2015

Pesan (Kurang) Penting untuk Kaum Patah Hati



Sebelumnya aku mengajukan permohonan maaf jika ada isi dari pesan ini menyinggungmu, atau terkesan menghakimimu. Sungguh tidak ada maksud sedikitpun untuk berlaku seperti itu. Aku bukanlah penasihat bijak yang mampu memberimu saran maha tepat, juga bukan hakim yang maha benar. Aku hanya seorang teman yang berusaha memberimu pesan yang mungkin kurang penting untuk disimak.

Patah hati memang bukanlah hal yang menyenangkan, aku tahu dan pernah merasakannya. Aku memahami bagaimana reaksi kaget, marah, sedih, kecewa, dan terluka itu bercampur menjadi satu. Sakit sekali memang, namun tidak ada luka hati yang tidak bisa sembuh. Hati itu memiliki kemampuan meregenerasi dirinya sendiri. Hati mampu menyembuhkan lukanya sendiri. Iya, hati kita sehebat itu. Jadi jika lukamu tidak kunjung sembuh, mungkin kau bisa mencoba mengintrospeksi diri, jangan-jangan ada bagian dari dirimu yang memang tidak menginginkan luka itu sembuh. Ibarat anak kecil yang penasaran dengan luka di lengannya yang mulai mengering, lalu merobeknya kembali hingga berdarah. Jika itu memang terjadi, aku ingin bertanya kepadamu, sampai kapan? Sampai kapan kau menikmati sakit akibat perbuatanmu sendiri? Di awal patah hati mungkin memang dia yang melukaimu, namun jika luka hatimu tak kunjung sembuh, dia yang meninggalkanmu sudah tidak lagi bertanggung jawab atas luka itu. Tidak ada yang bertanggung jawab atas luka hatimu selain dirimu sendiri. Kau memiliki pilihan untuk mengobati lukamu atau sengaja membiarkannya menjadi terinfeksi.

 

Tempat Mengungkap yang Tak Terucap Template by Ipietoon Cute Blog Design