Rabu, 11 Februari 2015

I'm Here for You


Halo, Ce... Sebenarnya hari ini aku berencana menulis surat untuk memberi dukungan ke papa, namun setelah pembicaraan kita semalam, sepertinya saat ini Cece lebih membutuhkan dukunganku. Jadi, surat ini aku buat supaya Cece bisa lebih kuat menjalani apa yang akan Cece hadapi di depan.

Aku mencoba mengerti apa yang Cece rasakan saat ini, ingin rasanya bisa menjadi problem solver atas pergumulan yang Cece hadapi. Apa daya jam terbangku sebagai sarjana psikologi belum begitu tinggi sehingga aku belum bisa memberikan saran ataupun jalan keluar yang terbaik. Tapi satu hal yang harus Cece tahu, kapanpun Cece membutuhkan tempat untuk meluapkan kegundahan hati, you can call me second. Loh kok second, Lia? Iya... yang pertama kali harus Cece hubungi dalam kondisi apapun adalah Tuhan. Hehehe. You must call Him first. Aku hanya manusia yang kadang bisa salah, kadang bisa mengecewakan Cece, tapi Tuhan kita tidak pernah salah dan tidak akan mengecewakan Cece. Dia juga problem solver yang paling keren yang pernah ada. Trust me.

Senin, 09 Februari 2015

Dear Kak Rina,



Dear Kak Rina,

Halo, Kak, bagaimana kabar pulau Jawa? Masih semenyenangkan dulu? Sudah lama kita tidak bersua. Niat pertemuan selalu terkendala jarak dan waktu. Aku iri ketika Kakak dan tim delapan yang lain memajang foto meet up di layar bbm. Tidak ada aku disana. Menyebalkan. Rasanya ingin sekali menjahit jarak antara Jawa dan Sumatera supaya aku juga bisa ikut kumpul dengan kalian.

Kakak masih suka memetik gitar? Atau sudah berganti dengan hobi memetik harapan? Hahaha. Masih ingat waktu Kakak mengajariku pindah kunci dari C ke G? di pendopo kampus Psikologi UNDIP tercinta. Kalau tidak salah itu persiapan untuk melantunkan lagu Balonku Ada Lima. Lagu pertamaku. Rasanya kaku sekali dulu. Aku selalu terkagum dengan kemahiran Kakak memainkan alat musik yang bisa membuat banyak orang terpesona dengan kesederhanaannya itu. Aku juga mau bisa seperti Kakak. Kakak serba bisa idolaku! (insert mata berbinar di sini). Aku minta maaf ya Kak kalau saat itu aku bebal dan merepotkan. Maafkan jari-jariku yang kaku sehingga butuh waktu bermenit-menit untuk pindah kunci. Maafkan otakku yang lambat untuk menyeimbangkan antara petikan dan timing pindah kunci. Maafkan perasaaanku yang kurang peka untuk memahami nada. Maafkan murid bodohmu ini ya, Kak. Hehehe. 

Aku mau kasih tahu ke Kakak, sekarang aku mulai melayani dengan kemampuanku bergitar yang seadanya. Masih sangat jauh dari nilai bagus. Tapi setidaknya sudah mulai dipercaya. Kemarin aku iring kebaktian sekolah minggu, Kak. Perdana. Tanganku dingin karena gugup. Hahaha. Terima kasih, ya, Kak. Berkat ketabahan Kakak mengajariku bertahun silam, hari ini Kakak sudah bisa petik buahnya. Meski masih agak asam :p. Aku mau belajar lagi, Kak. Aku mau cari guru lagi, supaya jadi lebih mahir. Supaya jadi seperti Kakak. Supaya nanti kalau kita bertemu, aku tidak malu-malu lagi untuk mengajak Kakak bermain gitar bersama. Kakak sambil nyanyi ya, suaraku pas-pasan soalnya x).

Itu dulu, ya, Kak, suratku. Lain kali aku akan bahas tentang kebaikan Kakak yang lain.
Terima kasih banyak, guru randomku dalam banyak hal. Semoga Kakak juga semakin expert ya kemampuannya.

Salam,
One of the most random friend in your life.


*ditulis untuk tantangan Twitter #30HariMenulisSuratCinta

Jumat, 06 Februari 2015

Bahagia Itu Sederhana



Hai, Kamu, aku ingin berbagi mengenai pandanganku tentang menjadi bahagia.
Coba kau simak, mungkin ada bahagia yang sama, atau mungkin kau punya bahagia yang lebih membahagiakan.

Menurutku,
Bahagia itu sederhana, sesederhana obrolan santai yang kita ucapkan kala hujan.
Bahagia itu sederhana, sesederhana senandung kecil yang dilantunkan saat mendengar lagu kesukaan.
Bahagia itu sederhana, sesederhana usapan tangan ayah di kepalamu hingga terlelap.
Bahagia itu sederhana, sesederhana disambut anak anjing yang berlonjak riang saat pulang.
Bahagia itu sederhana, sesederhana mendengar kalimat: “lause, liat rumah-rumahan aku. Udah bisa bikin sendiri” dari anak berusia 3 tahun.
Bahagia itu sederhana, sesederhana rengekan anak kecil yang tidak mau kita tinggal pergi.
Bahagia itu sederhana, sesederhana dipercayakan untuk melakukan sesuatu bagi orang lain
Bahagia itu sederhana, sesederhana kata terima kasih yang terucap.
Bahagia itu sederhana, sesederhana tawa yang tercipta saat bersama
Bahagia itu sederhana, sesederhana pilihan untuk menjadi bahagia.

Iya, bahagia itu pilihan. Setiap orang bebas memilih apa yang membuatnya menjadi bahagia.
Jika bahagia kita berbeda, tidak ada masalah dengan itu, selama kita menghormati kebahagiaan masing-masing.
Everyone has their concept about happiness. Respect their decision as they respect yours.

Menurutmu, apa bahagiamu? Apapun itu, selamat berbahagia.

*ditulis untuk tantangan twitter #30HariMenulisSuratCinta

Kamis, 05 Februari 2015

Surat Ijin untuk Tukang Pos

Kepada: Tukang Pos

Halo Kak Mike,
Hari ini aku malas sekali menulis surat. Kepalaku sedang dipenuhi banyak persoalan pekerjaan dan permasalahan yang aku buat sendiri. Saking rumitnya, bisa dijadikan sebagai bahan soal olimpiade fisika tingkat dunia. Ah, maaf, Kak, aku mulai ngelantur. 

Hari ini aku ijin ya, Kak, tidak menulis surat cinta yang penuh bunga dulu. Besok-besok aku janji akan menulis dengan semangat. Semangati aku ya, Pak Pos. Hehehe.

Salam,
Penulis surat yang sedang mangkir

*ditulis untuk tantangan twitter #30HariMenulisSuratCinta 
 

Tempat Mengungkap yang Tak Terucap Template by Ipietoon Cute Blog Design