Februari. Banyak yang bilang ini bulan cinta. Mungkin karena ada yang merayakan valentine di tengah bulan itu. Februari, ada yang ingin kutanyakan kepadamu.
Februari yang katanya penuh cinta, kenapa kamu harus spesial? Bukankah seharusnya kita penuh cinta setiap bulan? Setiap hari?
Februari yang katanya penuh cinta, apa yang dilakukan orang di bulan lain jika cintanya hanya terpusat saat kau datang? Saling membenci kah?
Februari yang katanya penuh cinta, mengapa orang memilihmu yang harinya tidak sampai 30 sebagai bulan cinta? Kenapa tidak Januari saja? Apa karena setiap orang hanya punya sedikit cinta yang bisa dibagikan?
Februari yang katanya penuh cinta, bisakah kau menjawab semua pertanyaan itu? Ah, sepertinya tidak. Kau hanya bulan yang mendapat nama dari manusia. Kau bahkan mungkin tidak mengetahui apa arti cinta yang sering disandingkan dengan namamu.
Sudahlah, Februari, lupakan saja perbincangan kita.
*ditulis untuk tantangan twitter #30harimenulissuratcinta
Minggu, 01 Februari 2015
Kepada Bulan yang Katanya Penuh Cinta
Label:
#30HariMenulisSuratCinta
Sabtu, 31 Januari 2015
Kamu, Mendung yang Abu
Sore ini awan hitam kembali menggulung di langit. Cuaca cerah berganti menjadi mendung kelabu.
Aku mengamati dalam diam wajahmu yang berusaha menampilkan keceriaan. Candamu yang mencoba mencairkan suasana. Berhasil memang, tidak ada yang mampu menahan tawa mereka. Sayangnya, tidak ada yang mampu ditutupi dari sorot matamu, bukan?
Lewat sorot mata itu aku melihat sesuatu yang tak kau ungkap. Samar. Tidak begitu jelas, seperti warna abu-abu yang entah ingin disebut hitam atau putih.
Kepedihankah itu? Atau kekecewaan? Luka yang belum mengering? Atau rasa sesal yang masih membuncah?
Entahlah, aku tidak tahu. Aku hanya melihat sinar abu dari sorot matamu.
Label:
#30HariMenulisSuratCinta
Senin, 27 Oktober 2014
Samuel's Journey to Find a King
Kali ini saya akan bercerita
sedikit mengenai hasil perenungan mengenai nabi Samuel.
Bacaan: 1 Samuel 16:1-10
Kita semua tahu
bahwa nabi Samuel adalah nabi yang diutus Tuhan untuk mengurapi raja. Dia hanya
tahu bahwa tugasnya adalah mengurapi raja, tanpa tahu siapa yang akan dia
urapi. Untuk mengurapi raja, ia harus menempuh perjalanan jauh dan berbahaya (Samuel
berangkat dari Rama ke Betlehem, kalau cek di google jaraknya sekitar 9338.5 km
dan waktu itu belum ada mobil atau pesawat ya teman-teman). Meskipun perintah
yang ia terima berat, ia tetap optimis karena ia tahu bahwa tugasnya mulia.
Setelah
perjalanan panjang, akhirnya ia berhasil menemui Isai, orang tua dari calon
raja. Ketika dia tahu anaknya Isai keren-keren, Samuel senang. “ Yes! My mission will accomplished soon!”
pikirnya. Saking semangatnya, Samuel jadi terobsesi dengan sosok raja dalam
bayangannya. Tegap, gagah, beribawa, dan berpengalaman. But, what happen next?
Label:
Refleksi diri
Selasa, 02 September 2014
NYAMANLAH JIWAKU
Lagu: Philip P. Bliss, 1876
Ketika hidupku sentosa teduh,
Ataupun sengsara penuh,
Di dalam kasihMu ku tinggal teguh,
Nyamanlah, nyamanlah jiwaku.
*Reff:
Nyamanlah jiwaku,
Nyamanlah, nyamanlah jiwaku.
Meski oleh Iblis aku diserang,
Hatiku tenang dan teguh,
Sebab Kristus t'lah menyelamatkanku;
DarahNya menebus jiwaku. *
Bukan sebagian dosaku ini,
Melainkan seg'nap dosaku
Dipaku di salib, dihapus penuh
Hai, pujilah Tuhan, jiwaku! *
Marilah ya Tuhan, datanglah seg'ra,
Dengan sepenuh kuasaMu:
Nafiri berbunyi dan langit lenyap
Ya, tetap nyamanlah jiwaku. *
- When peace, like a river, attendeth my way,
When sorrows like sea billows roll;
Whatever my lot, Thou hast taught me to say,
It is well, it is well with my soul.- Refrain:
It is well with my soul,
It is well, it is well with my soul.
- Refrain:
- Though Satan should buffet, though trials should come,
Let this blest assurance control,
That Christ hath regarded my helpless estate,
And hath shed His own blood for my soul. - My sin—oh, the bliss of this glorious thought!—
My sin, not in part but the whole,
Is nailed to the cross, and I bear it no more,
Praise the Lord, praise the Lord, O my soul! - For me, be it Christ, be it Christ hence to live:
If Jordan above me shall roll,
No pang shall be mine, for in death as in life
Thou wilt whisper Thy peace to my soul. - But, Lord, ’tis for Thee, for Thy coming we wait,
The sky, not the grave, is our goal;
Oh, trump of the angel! Oh, voice of the Lord!
Blessed hope, blessed rest of my soul! - And Lord, haste the day when the faith shall be sight,
The clouds be rolled back as a scroll;
The trump shall resound, and the Lord shall descend,
Even so, it is well with my soul.
Langganan:
Postingan (Atom)