Senin, 02 Februari 2015

Surat untuk Gadis Kecil



31 Januari 2015. Hari terakhir di bulan pertama tahun ini. Entah apa yang ada di pikiranku saat ini, semua terasa kabur. Suara hati tidak terdengar, mungkin tertutup derai hujan yang sedang turun dengan derasnya. Lama aku memandangi tetes air yang turun bergantian, hingga memoriku menangkap kenangan yang nyaris aku lupakan.

Minggu, 01 Februari 2015

Kepada Bulan yang Katanya Penuh Cinta

Februari. Banyak yang bilang ini bulan cinta. Mungkin karena ada yang merayakan valentine di tengah bulan itu. Februari, ada yang ingin kutanyakan kepadamu.

Februari yang katanya penuh cinta, kenapa kamu harus spesial? Bukankah seharusnya kita penuh cinta setiap bulan? Setiap hari?

Februari yang katanya penuh cinta, apa yang dilakukan orang di bulan lain jika cintanya hanya terpusat saat kau datang? Saling membenci kah?

Februari yang katanya penuh cinta, mengapa orang memilihmu yang harinya tidak sampai 30 sebagai bulan cinta? Kenapa tidak Januari saja? Apa karena setiap orang hanya punya sedikit cinta yang bisa dibagikan?

Februari yang katanya penuh cinta, bisakah kau menjawab semua pertanyaan itu? Ah, sepertinya tidak. Kau hanya bulan yang mendapat nama dari manusia. Kau bahkan mungkin tidak mengetahui apa arti cinta yang sering disandingkan dengan namamu.

Sudahlah, Februari, lupakan saja perbincangan kita.

*ditulis untuk tantangan twitter #30harimenulissuratcinta

Sabtu, 31 Januari 2015

Kamu, Mendung yang Abu



Sore ini awan hitam kembali menggulung di langit. Cuaca cerah berganti menjadi mendung kelabu.

Aku mengamati dalam diam wajahmu yang berusaha menampilkan keceriaan. Candamu yang mencoba mencairkan suasana. Berhasil memang, tidak ada yang mampu menahan tawa mereka. Sayangnya, tidak ada yang mampu ditutupi dari sorot matamu, bukan?
Lewat sorot mata itu aku melihat sesuatu yang tak kau ungkap. Samar. Tidak begitu jelas, seperti warna abu-abu yang entah ingin disebut hitam atau putih.
Kepedihankah itu? Atau kekecewaan? Luka yang belum mengering? Atau rasa sesal yang masih membuncah?
Entahlah, aku tidak tahu. Aku hanya melihat sinar abu dari sorot matamu.

Senin, 27 Oktober 2014

Samuel's Journey to Find a King



Kali ini saya akan bercerita sedikit mengenai hasil perenungan mengenai nabi Samuel.

Bacaan: 1 Samuel 16:1-10

Kita semua tahu bahwa nabi Samuel adalah nabi yang diutus Tuhan untuk mengurapi raja. Dia hanya tahu bahwa tugasnya adalah mengurapi raja, tanpa tahu siapa yang akan dia urapi. Untuk mengurapi raja, ia harus menempuh perjalanan jauh dan berbahaya (Samuel berangkat dari Rama ke Betlehem, kalau cek di google jaraknya sekitar 9338.5 km dan waktu itu belum ada mobil atau pesawat ya teman-teman). Meskipun perintah yang ia terima berat, ia tetap optimis karena ia tahu bahwa tugasnya mulia.
Setelah perjalanan panjang, akhirnya ia berhasil menemui Isai, orang tua dari calon raja. Ketika dia tahu anaknya Isai keren-keren, Samuel senang. “ Yes! My mission will accomplished soon!” pikirnya. Saking semangatnya, Samuel jadi terobsesi dengan sosok raja dalam bayangannya. Tegap, gagah, beribawa, dan berpengalaman. But, what happen next?
 

Tempat Mengungkap yang Tak Terucap Template by Ipietoon Cute Blog Design