Rabu, 04 Februari 2015

Saat Laut Bertemu Langit

Kepada: Ce Yuki

Cece masih ingat pertama kali kita ketemu? Iya, yang di tangga gereja itu, waktu aku bareng sama orang tua anak SM. Aku mencoba membayangkan apa jadinya kalau pemudi pertama yang kami temui bukan cece, barangkali surat ini tidak akan tercipta. Coba bayangkan seandainya saat itu cece pulang sedikit lebih cepat, mungkin tidak akan terjadi pertemuan di tangga itu, dan mungkin saat ini aku tidak akan aktif berkegiatan di gereja. Kebetulan? Sepertinya tidak. Tuhan sudah merencanakan hari itu. Tuhan sudah mengatur waktu tersebut dengan sedemikian rupa. Tuhan sudah menyatakan bahwa hari ini sudah waktunya laut bertemu dengan langit.


Selasa, 03 Februari 2015

Pesan (Kurang) Penting untuk Kaum Patah Hati



Sebelumnya aku mengajukan permohonan maaf jika ada isi dari pesan ini menyinggungmu, atau terkesan menghakimimu. Sungguh tidak ada maksud sedikitpun untuk berlaku seperti itu. Aku bukanlah penasihat bijak yang mampu memberimu saran maha tepat, juga bukan hakim yang maha benar. Aku hanya seorang teman yang berusaha memberimu pesan yang mungkin kurang penting untuk disimak.

Patah hati memang bukanlah hal yang menyenangkan, aku tahu dan pernah merasakannya. Aku memahami bagaimana reaksi kaget, marah, sedih, kecewa, dan terluka itu bercampur menjadi satu. Sakit sekali memang, namun tidak ada luka hati yang tidak bisa sembuh. Hati itu memiliki kemampuan meregenerasi dirinya sendiri. Hati mampu menyembuhkan lukanya sendiri. Iya, hati kita sehebat itu. Jadi jika lukamu tidak kunjung sembuh, mungkin kau bisa mencoba mengintrospeksi diri, jangan-jangan ada bagian dari dirimu yang memang tidak menginginkan luka itu sembuh. Ibarat anak kecil yang penasaran dengan luka di lengannya yang mulai mengering, lalu merobeknya kembali hingga berdarah. Jika itu memang terjadi, aku ingin bertanya kepadamu, sampai kapan? Sampai kapan kau menikmati sakit akibat perbuatanmu sendiri? Di awal patah hati mungkin memang dia yang melukaimu, namun jika luka hatimu tak kunjung sembuh, dia yang meninggalkanmu sudah tidak lagi bertanggung jawab atas luka itu. Tidak ada yang bertanggung jawab atas luka hatimu selain dirimu sendiri. Kau memiliki pilihan untuk mengobati lukamu atau sengaja membiarkannya menjadi terinfeksi.

Senin, 02 Februari 2015

Surat untuk Gadis Kecil



31 Januari 2015. Hari terakhir di bulan pertama tahun ini. Entah apa yang ada di pikiranku saat ini, semua terasa kabur. Suara hati tidak terdengar, mungkin tertutup derai hujan yang sedang turun dengan derasnya. Lama aku memandangi tetes air yang turun bergantian, hingga memoriku menangkap kenangan yang nyaris aku lupakan.

Minggu, 01 Februari 2015

Kepada Bulan yang Katanya Penuh Cinta

Februari. Banyak yang bilang ini bulan cinta. Mungkin karena ada yang merayakan valentine di tengah bulan itu. Februari, ada yang ingin kutanyakan kepadamu.

Februari yang katanya penuh cinta, kenapa kamu harus spesial? Bukankah seharusnya kita penuh cinta setiap bulan? Setiap hari?

Februari yang katanya penuh cinta, apa yang dilakukan orang di bulan lain jika cintanya hanya terpusat saat kau datang? Saling membenci kah?

Februari yang katanya penuh cinta, mengapa orang memilihmu yang harinya tidak sampai 30 sebagai bulan cinta? Kenapa tidak Januari saja? Apa karena setiap orang hanya punya sedikit cinta yang bisa dibagikan?

Februari yang katanya penuh cinta, bisakah kau menjawab semua pertanyaan itu? Ah, sepertinya tidak. Kau hanya bulan yang mendapat nama dari manusia. Kau bahkan mungkin tidak mengetahui apa arti cinta yang sering disandingkan dengan namamu.

Sudahlah, Februari, lupakan saja perbincangan kita.

*ditulis untuk tantangan twitter #30harimenulissuratcinta
 

Tempat Mengungkap yang Tak Terucap Template by Ipietoon Cute Blog Design