Sebelumnya aku mengajukan
permohonan maaf jika ada isi dari pesan ini menyinggungmu, atau terkesan
menghakimimu. Sungguh tidak ada maksud sedikitpun untuk berlaku seperti itu.
Aku bukanlah penasihat bijak yang mampu memberimu saran maha tepat, juga bukan
hakim yang maha benar. Aku hanya seorang teman yang berusaha memberimu pesan
yang mungkin kurang penting untuk disimak.
Patah hati memang bukanlah hal
yang menyenangkan, aku tahu dan pernah merasakannya. Aku memahami bagaimana
reaksi kaget, marah, sedih, kecewa, dan terluka itu bercampur menjadi satu. Sakit
sekali memang, namun tidak ada luka hati yang tidak bisa sembuh. Hati itu
memiliki kemampuan meregenerasi dirinya sendiri. Hati mampu menyembuhkan
lukanya sendiri. Iya, hati kita sehebat itu. Jadi jika lukamu tidak kunjung
sembuh, mungkin kau bisa mencoba mengintrospeksi diri, jangan-jangan ada bagian
dari dirimu yang memang tidak menginginkan luka itu sembuh. Ibarat anak kecil
yang penasaran dengan luka di lengannya yang mulai mengering, lalu merobeknya
kembali hingga berdarah. Jika itu memang terjadi, aku ingin bertanya kepadamu,
sampai kapan? Sampai kapan kau menikmati sakit akibat perbuatanmu sendiri? Di
awal patah hati mungkin memang dia yang melukaimu, namun jika luka hatimu tak
kunjung sembuh, dia yang meninggalkanmu sudah tidak lagi bertanggung jawab atas
luka itu. Tidak ada yang bertanggung jawab atas luka hatimu selain dirimu
sendiri. Kau memiliki pilihan untuk mengobati lukamu atau sengaja membiarkannya
menjadi terinfeksi.