Kamis, 05 Februari 2015

Surat Ijin untuk Tukang Pos

Kepada: Tukang Pos

Halo Kak Mike,
Hari ini aku malas sekali menulis surat. Kepalaku sedang dipenuhi banyak persoalan pekerjaan dan permasalahan yang aku buat sendiri. Saking rumitnya, bisa dijadikan sebagai bahan soal olimpiade fisika tingkat dunia. Ah, maaf, Kak, aku mulai ngelantur. 

Hari ini aku ijin ya, Kak, tidak menulis surat cinta yang penuh bunga dulu. Besok-besok aku janji akan menulis dengan semangat. Semangati aku ya, Pak Pos. Hehehe.

Salam,
Penulis surat yang sedang mangkir

*ditulis untuk tantangan twitter #30HariMenulisSuratCinta 

Rabu, 04 Februari 2015

Saat Laut Bertemu Langit

Kepada: Ce Yuki

Cece masih ingat pertama kali kita ketemu? Iya, yang di tangga gereja itu, waktu aku bareng sama orang tua anak SM. Aku mencoba membayangkan apa jadinya kalau pemudi pertama yang kami temui bukan cece, barangkali surat ini tidak akan tercipta. Coba bayangkan seandainya saat itu cece pulang sedikit lebih cepat, mungkin tidak akan terjadi pertemuan di tangga itu, dan mungkin saat ini aku tidak akan aktif berkegiatan di gereja. Kebetulan? Sepertinya tidak. Tuhan sudah merencanakan hari itu. Tuhan sudah mengatur waktu tersebut dengan sedemikian rupa. Tuhan sudah menyatakan bahwa hari ini sudah waktunya laut bertemu dengan langit.


Selasa, 03 Februari 2015

Pesan (Kurang) Penting untuk Kaum Patah Hati



Sebelumnya aku mengajukan permohonan maaf jika ada isi dari pesan ini menyinggungmu, atau terkesan menghakimimu. Sungguh tidak ada maksud sedikitpun untuk berlaku seperti itu. Aku bukanlah penasihat bijak yang mampu memberimu saran maha tepat, juga bukan hakim yang maha benar. Aku hanya seorang teman yang berusaha memberimu pesan yang mungkin kurang penting untuk disimak.

Patah hati memang bukanlah hal yang menyenangkan, aku tahu dan pernah merasakannya. Aku memahami bagaimana reaksi kaget, marah, sedih, kecewa, dan terluka itu bercampur menjadi satu. Sakit sekali memang, namun tidak ada luka hati yang tidak bisa sembuh. Hati itu memiliki kemampuan meregenerasi dirinya sendiri. Hati mampu menyembuhkan lukanya sendiri. Iya, hati kita sehebat itu. Jadi jika lukamu tidak kunjung sembuh, mungkin kau bisa mencoba mengintrospeksi diri, jangan-jangan ada bagian dari dirimu yang memang tidak menginginkan luka itu sembuh. Ibarat anak kecil yang penasaran dengan luka di lengannya yang mulai mengering, lalu merobeknya kembali hingga berdarah. Jika itu memang terjadi, aku ingin bertanya kepadamu, sampai kapan? Sampai kapan kau menikmati sakit akibat perbuatanmu sendiri? Di awal patah hati mungkin memang dia yang melukaimu, namun jika luka hatimu tak kunjung sembuh, dia yang meninggalkanmu sudah tidak lagi bertanggung jawab atas luka itu. Tidak ada yang bertanggung jawab atas luka hatimu selain dirimu sendiri. Kau memiliki pilihan untuk mengobati lukamu atau sengaja membiarkannya menjadi terinfeksi.

Senin, 02 Februari 2015

Surat untuk Gadis Kecil



31 Januari 2015. Hari terakhir di bulan pertama tahun ini. Entah apa yang ada di pikiranku saat ini, semua terasa kabur. Suara hati tidak terdengar, mungkin tertutup derai hujan yang sedang turun dengan derasnya. Lama aku memandangi tetes air yang turun bergantian, hingga memoriku menangkap kenangan yang nyaris aku lupakan.

 

Tempat Mengungkap yang Tak Terucap Template by Ipietoon Cute Blog Design