Rabu, 11 November 2015

Sudah Sewajarnya, Katanya



Hujan baru dirindukan saat kemarau panjang.
Udara segar baru disyukuri setelah terkena bencana asap.
Hangatnya mentari baru dicari ketika mengalami musim dingin berkepanjangan.
Keluarga baru dibutuhkan saat mulai terpisah.
Perhatian baru disesali saat ia tak lagi ada.

Minggu, 01 November 2015

Namanya Nino


Hari ini untuk pertama kalinya saya merasa berat mengetahui bahwa minggu depan kemungkinan besar saya tidak bisa hadir di sekolah minggu karena harus keluar kota. Kenapa? Begini ceritanya (maaf agak panjang)...

Minggu lalu Ls. Ester menginfokan bahwa ia berhalangan hadir hari ini karena satu dan lain hal, sementara Ls. Ike masih di luar kota. Mengingat keterbatasan guru di SM, saya diminta menggantikan Ls. Ester membawa cerita FT. Saat itu perasaan saya campur aduk. Bingung. Ada ketakutan, kekhawatiran, ragu, namun juga ada rasa penasaran dan excited. Saya berulang kali bertanya pada diri sendiri “Can I?” Saya belum resmi menjadi laoshi. Kelas penataran baru akan dimulai di awal November. Membawakan cerita sebelum resmi lulus menjadi laoshi membuat saya merasa menjadi laoshi prematur. Mampukah saya? Layakkah saya?

Rabu, 28 Oktober 2015

Laoshi, Kiss...

Hampir setahun ini saya menjadi asisten laoshi di SM GKPJ Pos PI Mayang. Tidak pernah saya membayangkan akan bertahan selama ini, karena dari dulu saya tidak (atau mungkin belum) tergerak melayani di bidang anak-anak. Menurut saya jadi guru SM itu merepotkan,  bukan karena anak-anaknya, saya sangat suka anak-anak. Namun membayangkan harus bangun lebih pagi di hari yang berwarna merah saja sudah sangat berat bagi wanita pekerja yang senin hingga sabtu harus membanting tulang (literally, saking kurusnya), dilengkapi dengan tanggung jawab tambahan membuat aktivitas yang baik untuk anak setiap minggunya. Saya yang tangannya sangat tidak kreatif langsung memasang dinding tinggi dalam diri untuk mampu menolak segala tawaran melayani di sekolah minggu. Dinding itu sudah ada sejak masa kuliah sebenarnya, berulang kali saya mendapat tawaran di gereja yang lama untuk masuk ke dunia sekolah minggu, namun saya selalu menolak, dengan berbagai alasan yang masuk akal (the perks of being good negosiator :p). 

Kamis, 22 Oktober 2015

Life: The Largest Fitness Center in the World



Saya mau cerita sedikit tentang pengalaman saya selama mencoba ikut nge-gym beberapa bulan terakhir. Tadi saya ngegym seperti biasa. Hari ini latihan otot dada. Hanya bebannya ditambah, dumbelnya diganti jadi yang  5kg. Mengangkat beban 5kg di kiri dan 5kg di kanan bukan hal yang mudah karena selama ini baru terbiasa dengan beban 3kg. Saat itu saya merasa trainernya kejam (sampai menulis ini dada saya masih sakit karena ototnya pecah). But, then I realized something, I make progress.

Dulu sebelum ngegym, buka tutup botol air mineral saja minta tolong orang (iya, saya selemah itu :p). Sekarang udah bisa angkat beban yang lebih berat. Tapi itu bukan tanpa proses. Bukan sulap yang seketika berubah. Perlu saya infokan, ngegym itu tidak seenak yang kalian lihat di foto-foto yang nyebar di medsos kekinian. Adek-adek yang senyum saat mengangkat beban itu saya yakini hanya untuk kepentingan pamer saja. Cuma sekali angkat terus pindah lagi ke alat lain buat difoto dan check in di path @ fitness center hahaha.  Mari kita menengok ke belakang untuk lihat proses sebenarnya secara umum.

 

Tempat Mengungkap yang Tak Terucap Template by Ipietoon Cute Blog Design